CERITA ADAT DUSUN SENARU
1. BERUGAK
Berugak merupakan kelengkapan dari sebuah rumah keluarga yang berada di depan rumah. Rumah ini memiliki fungsi multi guna, selain sebagai tempat berkumpulnya keluarga. Tempat menrima tamu dan tempat melahirkan bayi. Upacara Adat Gama ( Gawe Hidup dan Gawe Mati di laksanakan pula disini. Berugak berdiri dengan saka enam (6 ) karenana di sebut berugak sakaenam ( Tiang Enam ). Tiang melambangkan filosofi wilayayah agama, adat dan pemerintahan.
Berghuak harus di bangun dengan posisi melintang ke arah utara selatan. Unjung selatannya sebagai tempat teratas berpatokan pada arah Gunung Rinjani. Hal ini tampak jelas sewaktu ada acara Adat Gama. Dua tiang paling atas (Selatan) tempat duduk para Pemimpin Agama, dua tiang tengah sebagai tempat duduknya para Mangku Pimpinan Adat. Dua tiang paling bawah (Utara) tempt duduknya para Pemekel (Pimpinan Pemerintahan). Satu ruang kepatan bawah (Bagian Utara) selalu lebih luas dari kepatan atas (Selatan) karena ruang bawah di pakai untuk berumenidurkan, memandikan dan mengafani mayat.
Dalam perkembangan saat ini banyak berugaq bertiang empat yang di sebut berugak sakaempat. Berugak yang terdiri dari empat tiang saja, tentu sangat berbeda dengan berugak sakaenam.
2. TEMERASAN-MONJENG –SAMBI-GELENG
Temerasan –Monjeng –Sambi-Geleng memiliki fungsi yang sama yaitu tempat menyimpan bahan makanan pokok berupa padi atau beras. Temerasan, tempat menyimpan beras sedangkan monjeng, tempat menaruh padi siap tumbuk.
Geleng –Sambi di gunakan sebagai tempat menyimpan padi seusai dipanen. Perpedaan yang ada lebih menunjukkanpada setatus social pemiliknya. Geleng bentuk banghunannya memanjang dan lebih besar dari sambi. Pemiliknya adalah orang-orang kaya sedangkan sambi umumnya dimiliki oleh masayrakat biasa.
Menurut kepercayaan penduduk Senaru, dalam temerasan di taruhkan pula uang bolong (China), sebanyak 244 atau 44 keping agar tidak terjadi kekurangan beras.
Upacara ritual dalam penyimpanan padi dilumbung disebut Roah Sambi. Acara ini di lengkapi dengan olan-olan siwaq yang di jadikan bantal induk padi (pare) yang di sebut juga ina-ina. Sedangkan pada waktu menurunkan padi untuk konsumsi cukup dengan hanya menyiramkan Aiq Mel-Mel ( Air Penyejuk).
3. MINANGIN dan MERANTES
Minangin merupakan proses awal pengupasan padi. Penumbukan padi dilakukan secara bersama-sama, dengan anggota antara 10 sampai 18 orang. Pada wadah khusus yang di sebut rantok. Pekerjaan ini memadukan antara kerja dan seni yang di lakukan oleh Muda-Mudi menjelang Upacara Adat Gama. Alunan musik yang di timbulkan dengan menumbukkan alat penumbuk (Dendeng, Alu) bambu yang panjangnya 3-7 meter. Alat ini dapat menghasilkan empat nada dasar : Gebang, Kening, Tondo dan Dote. Nada-nada itu dipormulasi sedemikian rupa sehingga menjadi sebuah alunan musik yang enak dan harmonis. Hasil minangin selanjutnya dijadikan beras yang siap di masak. Pemerosesannya di lakukan dengan beberapa tahapan antara lain : Merantes, Menampiq-mengindang, dan motoin.
4. RUMAH TRADISIONAL
Rumah adat Senaru adalah rumah berarsitektur tradisional. Di bangun berdasarkan hitungan penanggalan bulan dengan susunan “atas-bawah”. Pada susunan paling atas adalah Rumah Adat Melokaq. Rumah adat di bangun dengan enam tiang penyangga yang di dalamnya terdiri dari : Inan Bale (Induk Rumah) sebagai tempat memanjatkan Do’a ( Menyampang ) yang di pimpin oleh anggota keluarga tertua dari keluarg dan mangku pada bale lokaq ( Ruah Tua).
Amben bleq sebagai tempat mengagiq yaitu tempat menyiapkan dan menaruh sesajen (sesajian) untuk acara kenduri (Rowah).
Amben beriq sebagai tempat mengagiq yaitu tempat mengumpulkan bahan-bahan sesajen yang siap dihidangkan.
Wanita yang sedang berhalangan serta pasangan suami isteri yang belum selesai adat kawinnya di larang memasuki rumah adat. Posisi rumah adat selalu menghadap timur barat (menghadap kiblat). Berbeda dengan posisi kuburan yang mengarah ke utara selatan. Rumah tempat tinggal selalu di lengkapi dengan ranjat, lamin dan selao.
5. RUMAH MELOKAQ
Melokq adalah tetua adat di Senaru. Tanggung jawabnya tangung jawabnya, menjaga, memimpin pelaksanaan adat-istiadat.
Ciri khas Rumah Melokaq terbuat dari bambu (Gedek) dan kontruksinya berbeda dengan rumah penduduk biasa yang lain. Terutama pada teras atau bagian depan rumah yang lebih pendek. Dimaksudkan agar setiap orang yang akan masuk rumah selalu menundukkan kepalanya. Hal ini pertanda hormat (Betabeq) kepada melokaq. Karena Rumah Melokaq di anggap sakral maka siapa saja yang memasuki rumah harus memakai pakaian adat, berupa sarung dan sapuq (Ikat Kepala).
Rumah dan berugaq melokaq berfungsi sebagai tempat berkumpulnya masyarkat selama pelaksanaan acara-acara ritual. Laki-laki harus duduk di berugaq, sedangkan perempuan duduk di dalam rumah ( dalem bale). Khusunya dalam acara pelaksanaan acara adat rowah ulan, rowah sampet jum’at, lebaran bubur petak dan bubur abang, masayarakat harus hadir dirumah melokaq. Setiap keluarga yang datang harus membawa jinah (Uang) yang isinya 44 biji uang bolong. Ditambah dengan 2,5 kilo beras, 2,5 kilo ketan, 4 biji kelapa, seekor ayam, lekoq buaq dan kemenyan putih.
6. PENGINANG ( SERVING BETEL NUT)
Penginang secara umum sudah di kenal masyarakat suku bangsa Sasak. Khususnya di lombok utara di sebut “Pebuan”. Setiap tamu yang datang sewajarnya su suguhkan pebuan. Sirih, pinang, gambir, kapur dan tembakau merupakan isi wajip dari pebuan.
Isi pebuan dapat di kunyah berbarengan. Kunyahan itu bisa dikeluarkan di luar rumn ah dapat di buat gulungan kapur sirih yang di sebut lekesan. Bila lekesan pebuan ini disimpan dalam bungkusan dari daun pisang di sebut selungsung. Kemudian selungsung di tempatkan pada sebuah wadah berbentuk piring yang tebuat dari kayu yang disebut tabaq.
Ada juga jenis pebuan lain yaitu pebuan kemal di pakai sebagai sarana untuk kelengkapan meminta pengobatan pada dukun atau pemangku. Selain sirih-pinang, isi pebuan kemal ditambahkan dengan (beras dan benang mentah yang disebut andang-andang) sebagai penebus.
7. JOJOR LILIT
Jojor lilit disebut juga damer lilit. Lampu penerang terbuat dari balutan kapas dan getah jarak yang di lilitkan pada bilah bambu. Di letakkan pada tempat yang dikehendaki seperti pada pangkal pohon buah-buahan, sudut dan dekat pintu rumah.
Sesungguhnya jojor lilit tersebut dari buah kemiri atau jarak yang diambil isinnya kemudian diaduk dengan kapas dan dililitkan pada bilah bambu.
Pada zaman dahulu sebelum berkembangnya teknologi maju, masyarkat menggunakan jojor lilit ini sebagai lampu penerang, dan termasuk untuk keperluan Upacara Adat Gama. Meskipun masyarkat telah mengenal minyak tanah dan listrik, jojor lilit masih tetap memiliki fungsi sakral. Digunakan untuk Acara Adat Gama sepeti tempat-tempat suci di Masjid, Bangaran, Rumah Melokaq, dan lain-lain.
8. BANGARAN
Bangaran adalah adalah tanda (simbul) tempat pemukiman penduduk. Tempat pemukimam terkecil itu di sebut gubuk. Pemukiman yang lebih besar dari dasan disebut desa.
Setiap gubuk dan dasan memiliki bangaran. Upacara pendirian bangaran dipimpin oleh Walin Gumi atau keturunan Lokaq Pembangar lainnya. Cara membuat bangaran harus dengan olan-olan siwaq. Terdiri dari sembilan jenis jajan pasar berupa : dodol, peset, bubur petak, bubur abang, kelepon, surabi, geguliq, pangan petak dan wajik.
Nasi dan lauk pauk merupakan makanan wajip sekalipun tidak termasuk dalam olan-olan siwaq. Lauk wajip terbuat dari daging kambing hitam mulus. Lauk dan nasi tersebut bersama tanduk, ujung lidah dan hatinnya harus ditanam pada bangaran. Untuk bangaran huma (ladang) dilakukan roah (kenduri) bangaran harus memotong kambing. Sementara untuk bangaran Gubuk atau Desa diadakan roah bangaran sekali dalam enam atau tujuh tahun tergantung kebutuhan dan kemampuan. Roah bangaran dimaksudkan untuk “nguripang” (menghidupkan) fungsi bangaran.
9. POHON SUREN
Dalam keyakinan masyarakat Senaru, pohon suren merupakan pohon yang di anggap suci. Hanya dapat di pergunakan untuk bahan bangunan Masjid. Pohon suren dalam nilai kearifan budaya lokal termasuk batara sehingga disebut Batara Suren. Pohon suren tidak boleh di tebang sembarangan untuk bangunan rumah. Kecuali untuk kebutuhan membuat sambi dan geleng (lumbung).
Pohon suren ini banyak tumbuh diperbukitan dan lembah kaki Gunung Rinjani. Ciri khas kayu ini adalah aromanya yang harum.
10. KELADI-TALAS (AMBUNG)
Taman ini termasuk jenis tanaman talas liar. Hidup di berbagai temapt di lereng perbukitan hingga lembah-lembah. Sebgaian masayarakat menganggap tanaman ini termasuk tanaman jin. Karena di samping tumbuh liar tanaman berkayu ini yang sangat kuat. Diyakini bahwa tumbuhan ini di pergunakan oleh bangsa jin.
Masyarakat memanfaatkan tangkai dan daun embung ini sebagai payung ketika hujan turun. Namun dibalik itu ternyata tumbuhan ambung memiliki daya kekutan sebagai obat jelateng. Getah pohon ambung juga termasuk gatal. Tetapi justru dapat dijadikan obat gatal jika terkena jelateng. Inilah yang disebut “ya tua ya tamba” dalam sesenggak (pribahasa) sasak, artinya ya racun ya penawar. Dalam nilai kearifan masyarkat senaru nbermakna bahwa setiap penyakit ada obatnya. Ambilah tangkai ambung, potongan akan mengeluarkan cairan, gosokkan ujung potongan tersebut pada bagian yang terkena jelateng, niscaya rasa gatal dan perih akan segera reda.
11. POHON KEMIRI
Pohon kemiri termasuk pohon yang cukup besar dan berbuah sekali setahun. Jika dipandang dari jarak jauh, tanpak pucuk daun berwarna putih, warna ini paling kontras perbedaannya dengan pepohonan lainnya. Buah kemiri kepalanya berada dibawah berbeda dengan buah lainnya. Itulah sebabnya pohon kemiri tidak boleh dipanjat. Jika pantangan ini dilanggar maka dapat berakibat si pemanjat akan jatuh.
Buah kemiri merupakan buah yang multiguna dapat dibuat menjadi bedak kerames ( bedak dan keramas) dan bisa juga di buat sebagai bumbu, bahan membuat jojor lilit (semacam) lampu lilin.
Di desa Senaru apabila terjadi pelanggaran dengan memanjat pohon kemiri 1-2 kali, didenda dengan beras secatu (2,5 kg). di tambah uang bolong (uang china) 244 keping, selngsor gula merah dan 1 ekor ayam. Apabila terjadi pelanggaran yang ke-3 maka denda adatnya adalah sama dengan denda adat sebelumnya, kecuali ayam di ganti dengan kambing.
12. JARAK
Jenis tanaman ini tumbuh disekitar Desa Senaru dan sudah hampir punah. Padahal jenis tanaman ini sangat dibutuhkan untuk membuat lampu penerang (lampu jojor) dalam acara-acara Adat Gama. Seperti pada malam dedengan yaitu selama 7 hari kelahiran bayi. Jojo juga di gunakan pada malam ganjil bulan puasa diatas tanggal 20 yang disebut acara maleman. Pada saat itu, semalam orang-orang tidak tidur untuk menunggu peristiwa gaib (malam Laitul Qadar).
Tanaman jarak ini jenis ini oleh masyarakat di Lombok Utara disebut jarak Belanda. Jenis jarak ini ada dua yaitu jarak kelikit dan jarak beleq. Disebut jarak kelikit karena bijinya banyak dan kecil-kecil, seperti kelikit (lalat). Disebut jarak beleq karena bijinya lebih besar dari jarak kelikit. Selain kedua jarak tesrsebut ada juga jarak pagar yang dapat dijadikan jojor lilit. Jarak sejenis ini paling banyak digunakan oleh masyarakat Senaru. Kegunaanya yang lain adalah daunnya digunakan untuk menurunkan panas. Bijinya juga dapat jadi obat sakit pinggang. Pohonnya sebagai pengusir hama pada tanaman padi, dirakit sebagai temat pembuangan abu dedengan. Selain itu getahnya dapat dijadikan obat sakit perut. Malam dedengan adalah tujuh malam dari kelahiran seorang ibu, tidak boleh keluar dan tidak boleh berpindah dari tempat melahirkan.
13. TRENG GEDENG- COR BAMBOO (JENIS BAMBU TALI).
Rumpun bambu ini terletak pada suatu tempat yang disebut Gedeng- Cor. Lazim disebut sebaggai Treng Gedeng- Cor. Pertama bambu ini digunakan utnuk bangunan masjid Desa Bayan Beleq sekitar abad ke-17. ketika itu agama islam baru mulai berkembang. Bambu itu terutama dijadikan dinding dan atap masjid kuno di Desa Bayan Beleq.
Bambu ini tidak digunakan untuk membuat tali pagar, tali hewan ternak, mengikat padi, membuat rumah. Hanya diperuntukkan memperbaiki masjid dan tempat keramat lainnya yang ada diwilayah Desa Bayan Beleq. Keyakinan masyarakat Senaru, Treng Gedeng-Cor memiliki kekuatan supranatural. Seiring dengan keyakinan adanya keyakinan adanya kekuatan gaib itu, masjid dan makam keramat di Bayan, harus dibangun dengan bambu tersebut. Tempat ini sebagai tempat yang paling maliq (keramat tabu) karenanya disebut dengan pemaliq leket (pemaliq berat). Jika bambu sudah saatnya akan dipakai, proses penebangannya haruslah melalui Ntaoq Lekoq Buaq (membuat sirih-pinang) pada mangku lokaq (sesepuh adat).
14. MENYEMBEQ (BLESSING)
Merupakan suatu acara ritual yang sakral. Dipercaya sebagai media untuk ketenangan batin agar sehat dan selamat dalam berbagai kegiatan yang dihajatkan. Apabila minta do’a selamat pada dukun atau mangku maka dilaksanakan do’a atau mantra sembeq. Kunyahan sirh-pinang yang dijadikan sembeq, dioleskan pada dahi bagian atas, ulu hati dan punggung disebut sembeq telu (sembeq tiga). Jika dihajatkan supaya sehat karena sakit, maka sembeq ditempatkan pada bagian dahi, dipangkal kedua daun telinga, ulu hati dan punggung disebut sembeq lima.
Sembeq selengkapnya terbuat dari isi pebuan/penginang yang dikunyah tanpa campuran tembakau. Kemudian dibungkus dengan daun sirih itu sendiri, daun pisang atau daun jagung. Sembeq termasuk media pengobatan yang paling utama dalam berbagai proses upacara adat.
15. SESAJIAN (SESAJEN)
Sesajian adalah bahan-bahan makanan yang digunakan pada upacara ritual adat budaya, pada suku Sasak di Lombok umumnya. Jenis bahan-bahannya bervariasi, tergantung dari keperluan jenis upacara yang dilaksanakan. Sesajian selain terdiri dari bahan-bahan yang dapat dimakan sperti nasi, lauk-pauk, juga dilengkapi dengan isi penginang tempat sirih-pinang sebagai lambang persahabatan. Penginang selalu disajikan kepada tamu. Penginag berisikan sirih, pinang, gambir, kapur dan tembakau.
16. NYEMPREK
Nymprek adalah salah satu bagian dari upacara adat dalam pemeliharaan tanaman padi ketika berumur kurang lebih 1,5 bulan atau saat mulai bunting. Bahan keperluan upacara berupa : kelapa, bambu waluh, dan beras ketan di sangrek (digoreng kering tanpa minyak) ditambah gula merah. Sari mata kelapa diambil sedikit dicampur beras ketan waluh. Pada sore hari petani yang melakukan nymprek yang mengelilingi sawahnya dumulai dari tempat dimana mulai menanam. Kegiatan ini bergerak searah dengan arah jarum jam sambil menyemburkan bahan-bahan yang telah dimasukkan kedalam bambu waluh. Prosesnya berakhir pada tempat dimulainya perjalanan nymprek itu.
Upacara nymprek dilakukan pada saat padi mulai bunting karena diyakini sebagai waktu ngidam. Nymprek adalah sebagai simbul memenuhi keinginan mengidam agar melahirkan butir padi padi yang banyak dan sehat disamping sebagai pupuk dan penolak hama penyakit.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar